Jumat, 05 Agustus 2016

What Makes You Happy #8

Have you ever looked at something amazing and wonder how would you feel if that was you? I have. The first time I watched a classical choir concert, I was so.. mesmerized by the way they sing. I am so content, so captivated. And then I told myself, one day you're gonna grow up doing things like that.

It's day minus one before my concert today. I'm going to sing solo the last song on the end of the first round. Last night I skipped practice session due to sore throat and I found a stain of blood when I coughed. I think my throat hurts so bad and I need to keep myself hydrated all the time. I know it sounded serious and all, but no. Tonight on practice, they replaced me with another good singer, a friend of mine, a senior. I know it's a very tense situation and show must go on.. But hold it right there. That's my spot. That's my dream. I'm so done with the idea of probably this isn't for me. I'm meant to do this. I will do it. I have prayed dearly for it all my life. I have asked the universe to let me have this moment..

So this is it. I'm doing my solo.

Rabu, 27 Juli 2016

What Makes You Happy #7

Put, aku numpang nulis duluan, ya!

Akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Tapi untunglah, aku disibukkan dengan hal yang kucintai. Aku baru sadar betapa minimnya jumlah keluhanku dibanding dengan tawa receh selepas jadwal latihan yang padat atau kebahagiaan mencicipi makanan baru. Aku bertemu banyak orang baru yang menyenangkan selepas pekerjaan yang jadi ajang tambah-tambah uang jajan: lewat lagu dan musik. Aku bertemu musisi hebat dan menjadi teman mereka. Banyak bicara soal rahasia awet muda dengan gitaris bernama Andri, aku baru tahu ia sudah menikah dan usianya 31, for God's sake, ia tampak seperti 23 tahun! Aku juga berteman dengan Daniela, seorang expat Spanyol yang meminta bantuanku untuk melakukan transkrip data. Aku pikir akan selesai sampai 8 rekaman kemarin, hingga akhirnya Daniela menghubungiku lagi untuk mengerjakan 3 rekaman terakhirnya. Aku butuh uang, jujur saja. Jadi kukatakan iya. Semesta selalu saja punya saja untuk memenuhi kebutuhan materialmu, jika kau bersungguh-sungguh melakukannya sepenuh hati. Don't you think?

Akhir-akhir ini, aku bisa menghasilkan banyak uang dari apa yang aku cintai, aku sungguh bersyukur atas hal itu.

Aku juga semakin menghargai persahabatanku dengan teman-teman terdekat, bahwa mereka akan sakit hati jika kutinggal demi pacar, atau kubatalkan begitu saja rencananya menjelang hari H. Aku tahu bahwa aku harus mengucapkan terima kasih jika aku dibantu, atau maaf jika aku salah. Hal-hal kecil yang sering aku lupakan jika aku berhadapan dengan sahabat sendiri--tentu saja karena kupikir mereka akan mengerti. Aku tetap wanita yang sulit dan menyebalkan. Tapi aku berusaha untuk menjaga semuanya seimbang.. kuharap begitu.

Kemarin malam, seseorang memberikanku kertas kecil, isinya Small Talks (The Real Group). Aku terima tanpa tahu untuk apa, kemudian aku dengarkan. Sekumpulan suara-suara surga, aku senang mendengarnya! Dalam waktu singkat lagunya mengalun-alun terus dipikiranku. Aku rasa kau juga mungkin suka.

Sebentar lagi aku konser. Aku takut sekali. Ada bagian solist di akhir babak satu dimana aku harus menyanyikannya. Aku tidak percaya kenapa begitu banyak keberuntungan di hidupku yang jahat. Aku jadi takut. Jangan sampai karma burukku tumpah ruah di hari dimana seharusnya aku paling bahagia.


Life's been so good lately. Life's been so busy, but good. 

So good. Thank You, God.

Rabu, 20 Juli 2016

What Makes You Happy #6

Sudah begitu lama tidak bicara, tidak ada aksara.
Aku sibuk, aku lupa hidup, terkutuk.

Lama sekali rasanya posting sebanyak 15 kali ini selesai.
Sampai-sampai aku lupa apa saja yang membahagiakan belakangan ini.
Tapi.. mari kujabarkan satu persatu dalam spasi.


Bulan malam ini pukul tujuh lebih sekian.
Wirvan Liegestu, sarjana kemarin sore.
Reffrain lagu Mandarin yang kunyanyikan dengan baik.
Bunga rampai.
Latihan rutin hari Kamis.
Sahabat seperti Fadjri.
Lembar-lembar musik Daniel Elder.
Udara malam ketika kipas anginku rusak.
Rinaldy Zulkarnain.
Expo.
Paduan Suara.
7 dan 14 Agustus, sebentar lagi!
Pembicaraan yang menarik dengan Tunggul.
Ibu kost kembali dari kampung.
Masa akhir gym.
Penantian akan hari wisuda Tevinstein Amos.
Makan buffet gratis bersama Anggia Moelini.
Selesainya laporan magang.
Kompetisi foto Indomaret.
Drama pertengkaran wanita kampung di depan kost.
Nomor-nomor halaman
yang dikerjakan Andreas Michael.
Mengukur baju pernikahan.
Nyamuk yang mati kupukul satu jari.
Tulisan Putri.


Ada banyak, Put. Aku lupa. Tapi hal-hal diatas, membuatku bahagia luar biasa.

Kamis, 30 Juni 2016

What Makes You Happy #5

Dear, Me in the alternate universe.
I'm sorry for your inability to wake up today.
Or that you would not know how it feels like to have your mom and dad prepare your foods when you wake up, waited for you to finish your chores,
just so they can eat together with you.
You would not know how it feels to tell them things, and the joy of seeing them so alive, the joy of knowing that they're here.
It feels like a grand festivity, deep down here, you know?
Of course, of course you don't.
You probably wouldn't bump into some hobbies, or passions, or things you'd be willing to do,
even if you're not paid. Not being able to have somebody admire your works, always been the one who admires others'. You probably are sticking to the monotonous life of yours. Safe, but not an enjoyable ride either.
You probably wouldn't know how it's like to have a group of friends who loved you, whom you also loved. Would not witness the teary moment of helping one of them when they were having the worst financial issue. You wouldn't have anybody told you, 'you are so lucky to have them.'
You were probably so rich, yet you were not loved.
You would probably circled by lots of people, but afterall you were alone.
I am thankful that I am not you.

Kamis, 09 Juni 2016

What Makes You Happy #4

Kepada Putri.


Aku juga hendak menuliskan hal yang sama, kau tahu, tentang pertemuan kita.
Apa kabar? Kamu kurus sekali sekarang, pun begitu cantik ketika aku melihatmu kala itu.
Apa yang kau kerjakan? Apakah kau bahagia?
Apa kau menikmati waktu-waktu yang kau habiskan bersama orang lain?
Aku harap demikian.

Kemarin itu aku sedang rapat mempersiapkan konserku ke Semarang.
Aku begitu menikmati segala kepusinganku minggu-minggu ini.
Setelah melalui hari-hari magang yang jauh lebih menyulitkan, aku merasa ini jadi tidak ada apa-apanya. Dan aku menikmati diriku yang produktif, setidaknya aku menghasilkan sesuatu.
Jam tidurku mulai kacau dan excitement terhadap sesuatu yang entah apa keeps me awake at night.
Aku harap aku bisa lebih kurus, dan lebih sehat tentu saja. Supaya aku bisa lebih melihat diriku sebagai ciptaan yang juga cantik.


Putri.
Aku senang di usia muda kau menemukan dirimu dalam tulis-menulis dan kata-kata.
Saat pertama kali aku mulai menulis, atau membaca novel dewasa di usia yang tidak seharusnya,
aku pikir hanya aku yang bisa jatuh cinta dengan tulisan liar dan mengekspresikan diri lewatnya.
Jadi ketika aku membuat blog ini--yang kini kutinggalkan karena aku aktif
menulis di Steller--aku tidak yakin akan ada yang membaca selain diriku.

Ketika akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi surat menyurat dengan lelakiku itu (yang tentu saja sifatnya satu arah. Lucunya, aku harap ketika aku mati ia akan membacanya meski terlambat),
you told me not to stop.

Terima kasih, ya, Put!
Karena tulisanmu yang inspiratif, yang cerdas, yang tidak main-main.
karena ajakanmu yang menguatkanku untuk menulis hal-hal baik ini,
terutama atas waktumu, yang kau habiskan untuk mebaca cerita-ceritaku yang sederhana.

Sungguh, aku bahagia sekali punya pembaca setia.
Meski hanya kamu, satu!



Terus berbahagia, oke?

Minggu, 05 Juni 2016

What Makes You Happy #3

Aku bukan penggemar agama, dan topik tentang itu selalu berbau sensitif untukku. Aku senang memiliki Tuhan, tetapi jujur saja aku tidak pandai dalam beragama. Semakin dewasa aku semakin menyadari bahwa agama adalah institusi buatan manusia yang bisa saja salah. Ungkapan seperti "jangan suka merasa agamamu yang paling benar," adalah ungkapan yang utopis untukku. Tentu saja aku, kamu, mereka, kita semua, merasa bahwa agama kitalah yang paling benar. Bukan berarti yang lain salah, tetapi milik kita yang terbenar, bukan? Jika tidak demikian, untuk apa kita hanya memeluk satu agama tertentu? Kenapa tidak semuanya, atau malah tidak usah sama sekali? Agama ada hanya untuk memberi reward atas hal baik yang kita lakukan, dan hukuman atas perbuatan jahat yang orang lain lakukan terhadap kita. Manusia takut hal yang mereka lakukan berbuah sia-sia, takut kebahagiaan yang sama diterima oleh orang yang kita rasa lebih hina dari kita sendiri. Sementara kita lupa bahwa Tuhan adalah Tuhan yang sama yang mengasihi semua orang sama rata..  Betapa aku merasa konsep keagamaan ini seringkali dibuat jadi begitu munafik oleh sebagian orang (yang katanya taat beragama): bahwa menjalankan perintah agama hanyalah ekspresi rasa takut mendapat dosa dan berlomba-lomba mencari pahala. Ah, tapi ini hanya luapan pikiranku yang liar saja, begini-begini aku masih takut dengan tradisi. Sebut saja aku ini seorang yang konservatif.

Kemarin Minggu, aku menghabiskan sepanjang hari bersama Amanda. Kami mengikuti misa di Katedral, datang 1 jam lebih awal. Aku terkesima dengan suara burung gereja yang saut menyaut di bangunan tua yang megah itu. Tradisional sekali kalau aku bilang bahwa suatu hari aku ingin menikah disana. Tapi toh, aku tidak lagi menjadikan pernikahan sebagai sebuah tujuan dan ritmik kebahagiaanku tidak berpusar disekeliling lelaki atau pasangan hidup. Aku bahagia meski aku sendiri saja.

Di depanku duduk satu keluarga, ayah ibu dan tiga anaknya. Anak terkecil dalam keluarga itu sangat tampan, aku yakin ketika beranjak dewasa ia jadi rebutan gadis-gadis seusianya. Tapi tentu saja, ia tetap anak kecil yang berisik dan rewel. Aku ingat, ingin sekali menegur orang tuanya yang diam-diam tidak berbuat apa-apa untuk menenangkan anaknya yang lasak, tetapi lupa bahwa harus sabar dan toleransi. Intinya aku menelan egoku mentah-mentah. Aku juga berdoa dalam intensi pribadi dalam doa umat, agar Tuhan memberikanku hati yang mau belajar bersabar dalam sehari-hari, since I've been so temperamental all my life.

Anak itu tidak kunjung diam dan semakin berisik ketika Perjamuan Kudus yang tenang. Aku sabar.
Kami pergi makan bakwan malang di bilangan Pasar Baru. Ada wanita berhijab tertawa bersama kawannya. Tawanya menyebalkan sekali, sungguh! Aku sabar.
Aku bertemu pengendara motor yang bodoh luar biasa. Aku sabar.
Setidaknya aku tidak mengeluh..


Ternyata begitu. Ketika kita memohon kesabaran, Tuhan tidak serta merta memberikannya. Tetapi Tuhan memberikan serangkaian kejadian untuk kita bersabar, agar kita belajar.

Begitu pula adanya dengan segala sesuatu yang pernah kita minta.




Lesson learned!

Kamis, 02 Juni 2016

What Makes You Happy #2

I once found a writing that said,

"Find what you love, and let it kill you." -- Bukowski.

I thought, things that we love won't get us killed.
I find it masochistic, the emphasizing period of loving something too hard,
that it makes us sick. Something that is too much is not good, agreed.

Today I lost my voice again, it's husky already but it gets even more now.
I sang my heart out 6 hours this day, straight from three to nine.
My heart is filled with beautiful melodies and happy things.
I also enjoyed every goosebumps one song can bring.
But my throat hurts as fuck now. I need to make an extra effort to even just talk normally.
It's okay, though..

I love singing so much, and I will let it kill me anyway.



You were right, Mr. Bukowski. You were right.