Kalau diberi waktu dua jam untuk dihabiskan, aku akan selalu memilih jalan sore. Senang rasanya, membawa kaki-kaki dan hati yang gemetar pergi jauh dari riuh rendah seisi kepala. Tak ada yang marah semisal aku berjalan lambat, atau berhenti, atau putar balik, atau hilang arah. Tak ada yang perlu dipusingkan selain bagaimana langit bisa begitu biru di bulan hujan yang abu-abu. Langkah-langkah jadi tak berarti dan tanpa tujuan. Tapi justru di sanalah intinya; akhir segala pencarian.
Dan selama sesaat, gang-gang yang kususuri disulap jadi arena bermain di mana aku bebas jadi apa saja.
Senin, 19 Oktober 2020
Tanpa Tujuan
Kamis, 15 Oktober 2020
Tanda-tanda Kematian
Kematian selalu membawa tanda-tanda.
Di beberapa kesempatan, tanda itu jelas sekali. Seperti racauan atau omongan yang tidak biasa. Mereka yang hendak meninggal, diberi kelebihan untuk berucap melampaui waktu. Jangan dibakar nanti, aku takut panas api. Maka keluarga yang ditinggalkan punya waktu mencari liang lahat terbaik. Kalau bisa yang di bawah pohon-pohon rindang, sebab dunia orang mati itu hampa udara. Sehingga sebuah tempat peristirahatan diharapkan bisa membawa angin segar. Ada juga mereka yang lebih pemberani, bakar saja aku, katanya, lalu tebar abuku di laut. Dari situ, keluarga menanti dengan waswas, sebab takada yang bisa dipersiapkan.
Pada kematian lainnya, tanda-tanda tak selalu jelas terbaca. Seperti sayup-sayup angin, hanya berupa perubahan sikap dan gerak-gerik yang tak kasat mata. Kecupan yang lebih lama. Bicara yang lebih halus. Sorot mata yang lebih dalam, seolah menembus melewati batas-batas dunia. Sebab kematian adalah laut yang tenang. Dan mereka yang hendak meninggal, sedang berjaga-jaga agar tak membangunkan apa-apa yang sedang tidur lelap.
Tanda-tanda jangan kautepis. Oleh sebab ketibaannya; kematian itu, sungguh takbisa menunggu siapapun.
*
Ditulis untuk sahabatku, Ridacia Sananta. Semoga kuatnya hatimu seluas langit dan sedalam laut, tahu bahwa ke sanalah perginya; tinggi dan jauh dan lepas, jiwa-jiwa manusia.
Minggu, 04 Oktober 2020
Jalan Sore
Selain mengenali kebiasaan, jalan sore membawaku dalam misi pencarian rumah terbaik. Tapi tak butuh waktu lama menentukannya. Pilihan itu jatuh pada sebuah rumah bergaya Bali dengan empat pahat batu besar berbentuk dewa-dewa yang tak kukenali namanya, menjaga empat sudut pagar batu. Setiap kali, aku menyempatkan diri berlama-lama berdiri mengamati. Temboknya tinggi, terbuat dari semen yang demi estetika, sengaja dibiarkan tidak rata. Gerbangnya mistis, dan nyaris setengahnya tertutup daun-daun pohon kamboja. Dinding rumah itu bata merah, dengan ulir-ulir di tiap pilar penyangga. Kukira rumah itu, meski malam turun sekalipun, justru akan menyala-nyala dalam gelap.
Di salah satu beranda yang menghadap jalan, ada lonceng angin yang bergemerincing sesekali, kalau sore sedang dingin seperti hari ini. Sehabis hujan tadi, di atas daun-daun pohon kamboja banyak titik air yang jatuh menetesi ronce-ronce melati dan bunga telang. Tanaman itu tumbuh rambat mengelilingi pagar rumah, seolah jadi satu dengan sekelilingnya. Semakin diperhatikan lama, rumah itu, dalam hati ada rasa seperti diajak masuk ke dunia yang antik. Berdecak-decak aku kagum. Orang-orang kaya ini hebat, ya. Mereka membangun rumah, yang di dalamnya berdiri hutan, sekaligus sebuah kota!
Senin, 15 Oktober 2018
Tentang Kerjaan
Rabu, 30 Mei 2018
Ditulis, dengan penuh cinta
Hari-hari seperti berlari tanpa berhenti, tak berjarak. Saat ini, kehidupan tidak sekadar berputar. Kehidupan berlari, berdetak, berhenti, lalu berlari lagi. Saat ini, ada individu lain yang begitu mengutuhkan, bungaku yang tumbuh. Ia berawal dari sajak kemudian menjadi wujud doa yang terlalu cepat dijamah. Ternyata begini rasanya saling jatuh cinta. Perencanaan yang hilang, waktu-waktu yang tak terukur, serta malam resah berganti damai, juga hatiku yang berkata, "terima kasih, terima kasih sekali."
Kata orang, jatuh cintalah perlahan, jangan tergesa-gesa, pada orang yang baik hatinya. Benarkah harusnya demikian? Hingga akhirnya aku menemukan potongan-potongan diriku pada seseorang seperti Wirvan Liegestu, aku tak pernah tahu diriku ini tak utuh. Intinya, aku bersyukur ia menemuiku. Ia tidak tahu, kan, berapa lama aku memintanya pada semesta, sampai ia perlahan, pelan-pelan, mulai melihatku ada.
--
Hari ini, Wirvan Liegestu merayakan hari jadinya yang ke-24 tahun. Waktu adalah.. sesuatu yang luar biasa, bukan? Karena pada detik, menit, hingga hari dan tahun yang baginya sudah tepat, waktu tidak hanya mampu mempertemukan, tetapi juga menciptakan rasa yang tidak pernah kau duga. Malam lalu, aku menyaksikan detik bergulir, sampai hari berganti. Sudah tanggal 31 Mei. Aku menduga banyak hal baik akan muncul. Aku melihat sekeliling ruang, lalu berhenti pada matanya.
Ia katakan padaku, "It's been a great year,"
"Yes," jawabku, "yes, it has."
Seraya menemukan senyumnya merekah, aku memeluknya erat. Bagaimana waktu bisa tahu, bahwa hari ini, setelah tahun-tahun yang berlalu, akhirnya ia menemukanku disini, pada usia yang lebih siap, saat kedewasaan menghampirinya bagai kawan lama yang pulang dari perantauan.
"Happy birthday, baby."
--
Jumat, 09 Maret 2018
Tentang aku dan sebuah peluang
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak mengambil peluang Jerman yang ada di depan mataku. Bukannya tidak ingin, hanya saja seiring berjalannya waktu ternyata aku lebih memilih rasa hati dan dengan siapa aku akan pergi. Lagipula, aku tahu kesempatan ini akan datang lagi. Kami akan pergi sekali lagi dengan tujuan, amanah, dan waktu yang lebih pasti.
Aku belajar bahwa apa yang kurencanakan dan kucita-citakan ternyata bisa saja berjalan tak sesuai keinginanku. Tapi aku juga belajar untuk tenang, karena segala hal punya alasan, dan aku ingin apapun yang seharusnya terjadi, memang terjadi di waktu dan saat yang tepat. Untunglah aku tidak memaksakannya tumbuh. Untunglah aku tahu, dan dengan demikian jauh lebih berlega hati, bahwa ada hal lebih baik yang menanti aku kembali.
Terima kasih, ya, sudah bertumbuh dan menjadi lebih dewasa. Hari ini pulanglah, tidur sendiri, nikmati malam dengan dirimu dan cahaya lilin jadi temanmu. Serapi alam raya, pahami betapa ajaib semesta ini bekerja. Bukan pada waktu orang lain, tapi pada waktumu sendiri.
Senin, 22 Januari 2018
Doaku pada suatu Senin, petang
Tuhan, terima kasih sudah memberiku ketahanan
untuk melihat kebaikan yang menimpa semua orang.
Waktu mereka seperti berlari. Aneh, aku malah sedang berhenti.
Terima kasih sudah membantuku menerima keindahanku,
memberi pemahaman bahwa meski aku bertumbuh menjadi mawar,
tidak membuatku lebih buruk rupa dari bunga matahari.
Tuhan, terima kasih sudah berbicara lewat alam semesta,
aku jadi tahu apa yang aku inginkan, tahu wujud kebaikanMu.
Dunia terlalu singkat dan sederhana untuk kuhabiskan
tanpa melakukan hal-hal yang kusenangi.
Aku pun sadar, kaya-raya bukan tujuan utamaku,
melainkan rasa, melainkan bahagia.
Terima kasih atas rasa syukurnya, ya Tuhanku.
Nikmat sekali menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Aku tahu nilai diri dan kapasitasku.
Sebagaimana aku tahu, ia pun begitu.
Sekarang aku menguarkan ambisiku jauh ke langit,
ke tempat Kau mungkin berada.
Aku tuturkan khawatir, keraguan, dan mimpiku
untuk menemuiMu,
untuk Kau lepaskan disaat yang tepat.